Suatu ketika di sebuah pohon yang rindang, tinggallah keluarga semut yang sederhana dan seekor tupai yang pemalas. Meskipun demikian tupai adalah hewan yang ramah dan sangat bersahabat dengan keluarga semut. Mereka saling membantu ketika mendapat musibah satu sama lain dan mereka selalu menyapa ketika bertemu. Tidak pernah sekalipun keluarga semut dan tupai saling bermusuhan, yang ada mereka hidup berdampingan dan saling melindungi.
Tapi sayangnya, tupai dikenal sebagai sosok hewan yang malas. Ia senang menghabiskan waktunya dengan hal yang tidak bermanfaat. Sehari- hari dia hanya mencari makan seperlunya, bermain dengan meloncat dari pohon ke pohon yang lain tanpa tujuan yang jelas. Tupai melewati harinya tanpa arah dan tujuan yang jelas untuk masa depannya. Asal perutnya kenyang dia pasti akan bisa hidup tenang. “Hidup mengalir seperti air,” begitulah katanya.
Berbeda dengan keluarga semut yang selalu bekerja keras setiap hari mengumpulkan makanan untuk persediaan. Keluarga semut berfikir musibah akan bisa datang kapan saja tanpa memberi kabar. Sehingga mereka dengan rajin mengumpulkan makanan bekerja tanpa rasa lelah setiap hari.
Langit sudah mulai menunjukan aura kuning ke merahan, senja dimana pertanda hari akan segera gelap.Di sore hari yang cerah ketika tupai sedang asyik bernyanyi tiba-tiba rombongan keluarga semut datang melewati depan rumah tupai. Semut beserta keluarganya baru saja selesai bekerja mencari persediaan makanan. Dengan raut wajah yang terlihat begitu lelah mereka masih bisa tersenyum menyapa tupai yang sedang asik dengan nyanyiannya. Tupai merasa keluarga semut lebih rajin bekerja yang membuat tupai heran. Tupai lantas bertanya kepada keluarga semut.
“Hai semut- semut kesayanganku ! Mengapa kalian terlihat bekerja begitu keras? Daripada kalian kelelahan, bukankah akan lebih menyenangkan jika kalian ikut bernyanyi denganku?” Tanya tupai.
“Wahai tupai , kami sedang menyiapkan persediaan makanan untuk melewati musim hujan nanti, sepertinya musim hujan akan segera datang. Dari pada menghabiskan waktu dengan hal yang tidak bermanfaat akan lebih baik jika kamu juga ikut mengumpulkan bahan makanan Bersama kami” jawab semut.
tupai tertawa mendengar jawaban semut. “Musim hujan masih cukup lama kawanku, janganlah begitu khawatir tentang musim hujan. Lihat hari ini sangatlah cerah! Masih banyak waktu untuk mengumpulkan persediaan makan dilain hari. Ayo bergabungkan bersamaku untuk bernyanyi lagu- lagu kesukaan kalian.” Balas tupai dengan penuh percaya diri.
“ Tupai, ada baiknya kalua kamu juga ikut bersama kami bekerja keras mengumpulkan persediaan. Jika musim hujan nanti, kita tidak akan banyak waktu untuk bekerja, pasti kita membutuhkan persediaan yang banyak. Kita aka nada waktu untuk bersantai dimusim hujan” nasehat semut untuk situpai.
Dimusim panas ini keluarga semut tetap bekerja keras dibawah teriknya sinar matahari yang begitu menyengat. Sedangkan tupai tetap Bersama pendiriannya ingin menghabiskan waktu untuk bersantai.
Tak terasa, musim hujan mulai tiba. Disiang hari, ditengah panasnya sinar matahari tiba- tiba air berjatuhan dari langit. Keluarga semut yang sedang bekerja diladang segera bergegas pulang untuk istirahat. Sedangkan tupai yang masih asik bersantai diatas pohon terkejut, karena hidungnya terkena rintik air dari atas pohon. Dia tidak berfikir akan secepat ini mjusim hujan tiba. Tupai segera masuk kedalam rumah dengan perasaan yang resah. Tupai mulai merasa perlu menyiapkan persediaan untuk musim hujan, tapi semua sudah terlambat. Hujan sudah mulai turun hari itu juga.
“ Kenapa aku dulu tidak mendengarkan nasihat semut, sekarang aku sudah terlambat untuk menyediakan persediaan dimusim hujan kali ini” gumam tupai.
Angin berhembus kencang mendampingi turunnya hujan yang begitu lebat. Keadaan sudah tidak mungkin lagi untuk bekerja. Tupai mulai terlihat panik dan bingung.
Keluarga semut yang sudah mempersiapkan persediaan terlihat begitu tenang, dan menikmati turunnya hujan. Mereka tau musim hujan kali ini tidak bisa diprediksi kapan akan berakhir. Karena itulah mereka bekerja begitu keras mengumpulkan persediaan makanan dan memperbaiki tempat tinggal mereka supaya aman dan tidak bocor.
Disisilain, tupai memutuskan untuk keluar mencari makan. Tupai meloncat dari dahan ke dahan yang lain, dari satu pohon ke pohon yang lain. Tapi karena hujan yang sangat lebat disertai angin kencang, tupai tidak mendapatkan makanan sedikitpun. Hari mulai gelap, tupai dengan rasa malu dan menyesal berjalan menuju rumah keluarga semut. Dari jendela tupai melihat keluarga semut sedang asik menikmati makan malam dengan penuh bahagia. Tersedia berbagai macam makanan mulai dari buah- buahan dan beberapa makanan sumber karbohidrat.
Keluarga semut sontak melihat kea rah jendela dan terlihat tupai dengan wajah lelah dan kelaparan melihat kebahagiaan mereka. Keluarga semut berusaha tidak peduli dengan keadaan tupai, karena sudah mereka nasehati sebelumnya tetapi tak dihiraukan oleh tupai.Tapi tetap mereka tidak bisa melihat tupai kesusahan.
“ Tupai, sedang apa kau disitu? Masuklah tupai, makan bersama kami !” seru salah satu semut.
“ Ternyata musim hujan datang secepat ini, aku belum punya persediaan apapun” keluh tupai.
“ Dulu, kami sudah mengingatkanmu untuk bekerja keras disaat musim kemarau Panjang, tapi kamu tidak memikirkan apa yang kami katakana, apa saja yang kau lakukan selama itu? Kau hanya menghabiskan waktu untuk hal yang tidak berguna” Sahut semut.
Tupaipun akhirnya menyadari bahwa apa yang dia lakukan selama ini adalah perbuatan yang tidak baik.
“ Aku janji, setelah ini aku tidak akan menyia- nyiakan waktuku lagi. Aku akan bekerja keras untuk menjalani hari- hariku. Ungkap Tupai dengan penuh penyesalan.
Setelah kejadian itu, tupai mendapatkan pelajar yang berharga untuk hidupnya. Dia berjanji dimusim kemarau berikutkan akan bekerja keras untuk mengumpulkan persediaan makanan. (karya.wajiasha)